Frater Herman Bouwens
Thursday, 21 February 2008

Frater Herman Bouwens SJ (1920-1948) lahir di Limmel, Belanda. Ia mulai bergabung dengan Serikat Jesus pada tahun 1938 dan dikirim untuk melanjutkan novisiatnya di Girisonta, Indonesia, pada tahun 1939. Study Filsafatnya di tempuh di Yogyakarta pada tahun 1941. Namun demikian, malang nasib frater ini karena ia dinternir oleh Jepang di Cimahi pada tahun 1943-1945.

Setahun setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, Frater Bouwens mendapat kesempatan untuk mengajar di Seminari Menengah di Ganjuran (1946). Dua tahun kemudian, seminari diaspora ini pindah ke Muntilan. Frater Herman Bouwens yang setia terhadap tugas perutusannya ini masih diminta untuk mendampingi para seminaris. Ia diangkat sebagai prefek dan sekaligus juga mengajar bahasa Perancis untuk pegawai-pegawai kantor pos di Muntilan.

Frater Herman Bouwens selama hidupnya dikenal sebagai orang yang penuh semangat, fasih dalam bahasa jawa, cerdas dan berwajah ceria. Badannya yang tegap menyiratkan kepribadiannya yang tegar dan disiplin. Ia tidak pernah siesta (jam tidur siang) dan selalu melibatkan diri dalam pekerjaan kasar para siswa termasuk tugas jaga malam. Dari catatan pribadi dan surat-suratnya diketahui bahwa frater yang satu ini mempunyai perhatian yang besar terhadap pendidikan calon imam pribumi. Namun sayang malam berdarah yang merenggut hayatnya terjadi di usianya yang masih muda.

Pada malam 20 Desember 1948, Frater Bouwens, SJ bersama Rm Sandjaya Pr. secara sukarela menawarkan diri untuk memenuhi undangan rapat dari pimpinan pemuda Hisbullah Muntilan dalam rangka membicarakan tentang akibat aksi Belanda ke-2. Tetapi ternyata mereka ditipu dan dibunuh secara kejam oleh laskar Hisbullah di tengah sawah antara desa Kembaran dan Patosan. Kedua rohaniwan ini menjadi korban fanatisme keagamaan yang didahului oleh suasana konflik akibat perebutan lapangan sepak bola milik seminari. Setelah ditemukan, jenazahnya dimakamkan di desa Kembaran dan baru dimakamkan pada tahun 1950 di Muntilan.

Frater Heman Bouwens telah tiada, tetapi namanya yang harum sebagai seorang skolastik terus dikenang. Kepribadiannya yang memukau layak menjadi panutan bagi generasi muda Yesuit, ujar Romo Danuwinata SJ.       

 

 


 
Sejarah Kolese Hermanum
Thursday, 21 February 2008

Frater Herman Bouwens. Seorang frater Yesuit yang namanya dipakai sebagai nama rumah formasi bagi para skolastik Yesuit di  tahun akademi Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara Jakarta. Menurut kesaksian Romo Danuwinata, SJ, semula unit formasi yang ada hanyalah unit Salemba Bluntas, Kramat VI dan Kramat VII yang dalam katalog provinsi 1972 disebut Secretarius Instituti Philosophici Driyarkara (Sekretariat Institut Filsafat Driyarkara). Kemudian bertambah lagi di Rawasari dimana mayoritas penghuninya adalah dosen-dosen STF. Pada waktu itu Rm. A. Soemandar, SJ diangkat menjadi rektor pertama untuk keseluruhan unit-unit formasi di Jakarta. Rm Soemandar, SJ menjabat menjadi rektor sampai 7 Oktober 1974. Provinsial secara resmi membebaskan beliau dan mengangkat Rm Danuwinata SJ menjadi penggantinya.

Sampai saat itu kolese ini belum mempunyai nama. Dalam katalog provinsi 1974 sebutannya masih: Schola Superior Philosophica Driyarkara Et Residentia untuk unit wisma Rawasari. Sedangkan untuk unit-unit yang lainnya disebut Residentia Scholasticorum. Rm Danuwinata, SJ, sebagai rektor, mencoba untuk mengintegrasikan kolese kita ini dalam katalog Provinsi 1975  dengan sebutan Domus Formationis NN: Schola Superior Philosophica Driyarkara er Residentiae NN ad Hanc Scholam Pertinentium (mengacu pada penghuninya). Tetapi merasa  tidak puas karena seolah-olah semua Nostri di Domus Formationis terlibat langsung dengan STF. Maka dalam katalog Provinsi 1976, kata terakhir diganti menjadi “Pertinentes” (mengacu pada unit-unitnya), karena sejak semula adanya unit-unit memang demi STF Driyarkara.

Setelah Rm Danuwinata diangkat untuk merangkap menjadi ketua STF, ia mengusulkan agar kolese kita diberi suatu nama. Nama yang diusulkan semula : Robertus de Nobili. Namun demikian, Rm Provinsial menjawab usulan ini dengan menunjukkan bahwa penggunaan nama tersebut membutuhkan ijin dari Roma dahulu.

Berhubung lama tidak ada berita dan rektor sendiri tidak terlalu yakin bahwa untuk memberi nama dibutuhkan ijin dari Roma, maka pelan-pelan disosialisasikan nama Hermanum. Adapun nama tersebut menjadi Hermanum karena setelah dilihat kembali nama Robertus de Nobili, yang semula diusulkan, dirasa lebih cocok digunakan di negara India. Alasan yang lebih kuat selain itu, sebetulnya Rektor mengincar nama Driyarkara karena baginya Driyarkara memang sosok yang pantas menjadi teladan. Sifatnya yang sederhana, jujur, berhati-hati dalam mengajukan pendapat dan selalu disertai analisa yang tajam rasanya memang layak untuk diteladani. Namun, sayangnya nama ini sudah dipakai untuk STF. Rektor tidak kehabisan akal. Nama asli dari Driyarkara waktu masih kecil adalah Suhirman. Nama klasik gerejani yang paling dekat dengan ini adalah Hermanus/Herman. Ditambah lagi, ada seorang skolastik Belanda yang dipanggil Tuhan karena disiksa dan dibunuh oleh orang-orang fundamentalis yang picik pada masa seminari menengah diaspora di Muntilan. Nama skolastik itu adalah Herman Bouwen. Frater skolastik ini dikenal sebagai seorang yang pribadinya yang tegar, displin, cerdas, dan suka berkerja keras. Ditambah lagi, Frater Herman Bouwen menurut refleksi Romo Mardiatmadja adalah pribadi yang sungguh punya perhatian besar terhadap komunitas. Ia meninggal karena mewakili komunitas. Maka, pilihan nama dari rektor saat itu dirasa sangat tepat karena kedua pribadi yang muncul nyata-nyata pernah hadir ditengah-tengah kita di Indonesia ini dan pribadi-pribadi yang patut menjadi panutan generasi muda Yesuit.

Akhir kisah ini, nama Hermanus dipakai sebagai nama pelindung kolese formasi kita di Jakarta. Dalam katalog Provinsi 1977, nama Colegium Hermanum muncul dan masih dipakai sampai sekarang ini. Demikianlah cerita asal-usul nama kolese ini yang diambil sebagian besar dari kesaksian Rm Danuwinata SJ dalam buku internos 2005.